Cut Nyak Dhien adalah ikon perempuan pejuang Aceh. Lahir di Lampadang, 1848, putri Teuku Nanta Setia, seorang hulubalang VI Mukim. Pada usia 12 tahun, Ia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, seorang uleebalang yang terlibat perang melawan agresi Belanda pertama, 6 April 1873 di Kutaradja untuk merebut kembali Mesjid Raya Baiturrahman.
Sepeninggal suami pertama yang tewas dalam pertempuran di Gle Tarum, Aceh Besar (1878), Cut Nyak Dhien diperistri Teuku Umar. Pasangan ini tak pernah serasi, apalagi saat Teuku Umar membelot ke Belanda, 1893 dan digelari Teuku Djohan Pahlawan. Tapi ternyata, di tahun 1896, Teuku Umar menusuk Belanda dari belakang dan akhirnya tertembak.
Seperti kisah pengkhianatan yang lekat dalam sejarah, Cut Nyak akhirnya ditangkap oleh informasi pang laot Ali. Di tengah hujan lebat petang hari 4 November 1905 di Babah Krueng Manggeng, Aceh Barat. Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang. Di usia renta ia mengajar mengaji pada anak2 dan ibu2 yang memanggil beliau IBU PERBU ( ibu ratu),tanpa pernah mengetahui perjuangannya di tanah utara Sumatra. Ia wafat 6 November 1908 dan dikubur di kompleks makam para raja, Gunung Puyuh.
Kisah Cut Nyak Dhien di atas, mirip ungkapan Mahmoud Darwish, “memori yang terlupa” (memory of forgetfulness). Keberadaan beliau sempat hilang dari peredaran sejarah Nusantara. Pemerintah Aceh baru “menemukan” makam Cut Nyak Dhien tahun 1959 ketika Ali Hasjmy mengunjungi perpustakaan Leiden, Belanda dan menemukan fakta pembuangan tersebut. Bahkan, ketika akhirnya dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden Soekarno No.106/1964, makamnya tidak seperti cagar sejarah nasional.
Padahal, sejarah tentangnya mengalir deras bak Sungai Wolya dalam syae (cerita) masyarakat Aceh ...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar