Jumat, 14 Mei 2010

Mengenang Kembali Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien adalah ikon perempuan pejuang Aceh. Lahir di Lampadang, 1848, putri Teuku Nanta Setia, seorang hulubalang VI Mukim. Pada usia 12 tahun, Ia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, seorang uleebalang yang terlibat perang melawan agresi Belanda pertama, 6 April 1873 di Kutaradja untuk merebut kembali Mesjid Raya Baiturrahman.

Sepeninggal suami pertama yang tewas dalam pertempuran di Gle Tarum, Aceh Besar (1878), Cut Nyak Dhien diperistri Teuku Umar. Pasangan ini tak pernah serasi, apalagi saat Teuku Umar membelot ke Belanda, 1893 dan digelari Teuku Djohan Pahlawan. Tapi ternyata, di tahun 1896, Teuku Umar menusuk Belanda dari belakang dan akhirnya tertembak.

Seperti kisah pengkhianatan yang lekat dalam sejarah, Cut Nyak akhirnya ditangkap oleh informasi pang laot Ali. Di tengah hujan lebat petang hari 4 November 1905 di Babah Krueng Manggeng, Aceh Barat. Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang. Di usia renta ia mengajar mengaji pada anak2 dan ibu2 yang memanggil beliau IBU PERBU ( ibu ratu),tanpa pernah mengetahui perjuangannya di tanah utara Sumatra. Ia wafat 6 November 1908 dan dikubur di kompleks makam para raja, Gunung Puyuh.

Kisah Cut Nyak Dhien di atas, mirip ungkapan Mahmoud Darwish, “memori yang terlupa” (memory of forgetfulness). Keberadaan beliau sempat hilang dari peredaran sejarah Nusantara. Pemerintah Aceh baru “menemukan” makam Cut Nyak Dhien tahun 1959 ketika Ali Hasjmy mengunjungi perpustakaan Leiden, Belanda dan menemukan fakta pembuangan tersebut. Bahkan, ketika akhirnya dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden Soekarno No.106/1964, makamnya tidak seperti cagar sejarah nasional.

Padahal, sejarah tentangnya mengalir deras bak Sungai Wolya dalam syae (cerita) masyarakat Aceh ...

BATAVIA dan Asal-usul Nama KOTA INTAN

Nama BATAVIA sesungguhnya berasal dari kata BATAVIEREN – sebuah nama suku bangsa kuno Jerman yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda. Jan Pieterszoon Coen semula mengusulkan nama NIEUWE HOORN untuk kota ini, tetapi ditolak. Nama Batavia pun akhirnya dipakai Belanda untuk mengganti nama Jayakarta. Pemakaian nama Batavia berlangsung cukup lama, lebih dari 300 tahun ( 1619 – 1942 ).

VOC semula hanya menjadikan Batavia sebagai tempat penampungan barang2 persediaan suku cadang, air dan bahan makanan untuk menopang kegiatan perdagangan rempah2nya di Maluku. Untuk itu didirikanlah sebuah benteng sebagai gudang dan tempat pemukiman sementara yang dinamakan FORT JACATRA.

Namun ancaman dari Kesultanan Banten dari barat dan Mataram dari timur pada pertengahan 1680-an menjadikan Batavia sebagai zona perang. Belanda pun menaikkan status Batavia menjadi pusat pemerintahan,perdagangan dan pertahanan.

Di bawah pemerintahan JP Coen, VOC membangun benteng baru yang diberi nama KASTEEL BATAVIA yang luasnya 9 x dari benteng lama. Pada ke-4 sudut kastil dibangun sudut2 pertahanan (bastions) yang disebut dengan batu2 mulia : Diamont (intan), Robijn (batu delima), Saphier (batu nilam), dan Parel (mutiara). Oleh karenanya penduduk waktu itu menyebut benteng itu : KOTA INTAN.

MEESTER CORNELIS

Nama sebuah kawasan yang terkenal pada masa Hindia-Belanda ini merujuk pada seorang tuan tanah bernama Meester Cornelis Senen. Dia BUKAN seorang warga Belanda, melainkan warga Pulau Lontar, Banda - Maluku yang dikirim ke Batavia oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1621.

Di Batavia, Cornelis Senen menjadi seorang guru agama Kristen dengan membuka sekolah pada tahun 1635. Kemampuannya dalam berbahasa Banda-Maluku, Melayu, Portugis dan Belanda membuatnya mampu berkesempatan memimpin doa dan berkhotbah sehingga mendapat tambahan gelar ‘MESTEER’ di depan namanya.

Setelah 10 tahun melayani umat Kristen di Batavia, ia diangkat menjadi proponent - calon pendeta. Untuk itu ia harus belajar katekisasi (pelajaran saat akan menempuh ujian untuk menjadi seorang pendeta pada tahun 1657) tetapi ditolak panitia ujian kemungkinan karena ia seorang pribumi asli.

Walaupun demikian,ia masih diberi kesempatan untuk memiliki sebidang tanah luas di tepi Kali Ciliwung, 20 km dari Batavia (kawasan KOTA di Jakarta sekarang). Tanah luas penuh pepohonan jati itulah yang kemudian dikenal dengan nama MEESTER CORNELIS ... atau yang sekarang dikenal dengan nama JATINEGARA.

Asal - Usul Nama Ragunan

Kawasan Ragunan di Jakarta Selatan,saat ini menjadi sebuah kelurahan yang termasuk dalam Kecamatan Pasar Minggu dan terkenal dengan tempat kebun binatang di Jakarta.

Nama Ragunan berasal dari nama Pangeran Wiraguna,yaitu gelar yang disandang tuan tanah di kawasan tersebut,yakni : HENDRICK LUCAASZ CARDEEL. Gelar tersebut disandangnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar atau Sultan Haji, putra Sultan Ageng Tirtayasa.

Menarik disimak,bagaimana seorang Belanda dapat menyandang gelar tersebut, mengingat Kesultanan Banten dan Belanda merupakan dua kubu yang sering berseteru.

Alkisah pada tahun 1675, Keraton Surasowan,tempat bertahtanya Sultan Ageng Tirtayasa terbakar dengan hebatnya. Dua bulan setelah itu, Hendrick Lucaasz Cardeel, seorang juru bangunan datang dari Batavia untuk mengabdi kepada Sultan.

Maka, Cardeel pun diserahi tugas untuk memimpin pembangunan kembali keraton serta bangunan2 lainnya. Atas jasanya itu,dan sesudah memeluk Agama Islam, Cardeel dianugerahi gelar KIAI ARIA WIRAGUNA.

Ketika terjadi sengketa antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa mengenai siapa yang berhak menjadi Sultan di Banten, Sultan Haji meminta bantuan Belanda melalui Cardeel. Akhirnya Sultan Haji menduduki tahta Banten dan Cardeel pun dinaikkan gelar kehormatannya menjadi PANGERAN WIRAGUNA.

Beberapa tahun kemudian, Cardeel pun pulang ke Batavia dan membuka lahan yang sangat luas di daerah yang sekarang disebut RAGUNAN.

Sekilas Tentang Islam Kejawen

Islam Kejawen adalah salah satu fenomena keagamaan dunia yang sangat menarik. Ada dua peristiwa penting yang sangat berpengaruh dalam pembentukan anyaman mistik dan simbolisme Islam Kejawen.

Pertama, pada tahun 1478 M, Brawijaya V yang diakui sebagai Raja Majapahit terakhir memeluk Agama Islam atas bimbingan Sunan Kalijaga. Hal ini membawa dampak gelombang pengislaman secara besar besaran bagi masyarakat penduduk Jawa, karena mereka memegang tradisi AGAMA AGEMING AJI atau agama rakyat mengikuti agama rajanya.

Kedua, ekspansi Panembahan Senopati di Mataram yang pada suatu ketika harus berhadapan dengan pasukan Jawa Timur. Sunan Giri kemudian menengahinya dengan menyuruh kedua pimpinan memilih isi atau wadah.

Akhirnya disepakati Surabaya dan Jawa Timur mendapat isi sedangkan Mataram mendapatkan wadah, Isi adalah manusia atau ilmu Agama Islam sementara wadah adalah pemerintahan atau negara. Sejak saat itu arus keagamaan Jawa selalu mengalir dari timur ke barat.

Dua peristiwa itu di kemudian hari sangat mewarnai paham keagamaan orang Jawa. Akulturasi kebudayaan yang penuh dengan mistik dengan simbolisme itu akhirnya semakin mencapai bentuk yang paling sempurna.

TADJOE'S SALATIN

Kitab yang konon Sultan Hamengku Buwono I dan Pangeran Diponegoro pun membacanya ini dikenal sebagai kitab yang berisikan teori Islam pertama yang berbahasa Melayu dan terkenal sebagai kitab pegangan bagi raja-raja di Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa hingga ke Makassar sebagai acuan ketatanegaraan.

Kitab ini dikarang oleh Bukhari al-Jauhari pada tahun 1603 dengan judul Taj al-Salatin. Sampai saat ini ada dua dugaan siapa sebenarnya Bukhari al-Jauhari. Dugaan pertama menyebutkan ia berasal dari Johor, Malaysia. Sementara dugaan yang lain menyebutkan bahwa Bukhari bukanlah nama seseorang, tetapi sejenis gelar kehormatan.

Arti dari TADJOE’S SALATIN sendiri adalah mahkota bagi raja-raja. Dan, sebagaimana sebuah mahkota, ia menginginkan Tadjoe’s Salatin menjadi junjunan yang sangat bermanfaat bagi pembacanya. Tadjoe’s Salatin berisikan nasihat-nasihat, perumpamaan, ataupun pemikiran-pemikiran keislaman yang tertuang dalam 38 Bab Pembahasan.

Empat bab awal membahas manusia dengan penciptanya. Empat bab berikutnya membahas manusia dan dunia tempat berlangsungnya kehidupan. Bab selanjutnya memuat hikayat tentang raja maupun petinggi kerajaan yang mengenal Allah Swt. Menarik disimak, pada Bab ke-22 dan Bab ke-23 juga terdapat kisah dua raja bukan Islam tetapi adil dalam memerintah, yakni kisah Raja Noesjirwan dan sebuah kisah raja dari Daratan China.

Ki Padmasusastra

Banyak orang menyangka bahwa kesusastraan Jawa telah berakhir dengan menempatkan Ranggawarsito sebagai pujangga kraton terakhir. Padahal disitu masih terdapat Ki Padmasusastra (1843 – 1926) yg kerap terlupakan dan terpinggirkan.

Nama Ki Padmasusatra jarang dikenali,padahal beliau adalah pokok dan tokoh yang kontroversial dalam ranah kesusastraan Jawa. Namanya disebut-sebut George Quinn (1992) sebagai pembentuk novel Jawa modern. Bahkan John Pamberton (2003) menjulukinya sebagai etnografer modern Jawa yang pertama karena dedikasi pembacaan, pencatatan dan penafsirannya dari sudut Jawa non keraton.

Puncak dari laku kreatif Ki Padmasusastra dalam dunia bahasa dan sastra Jawa adalah Serat Paramabasa (1883), Serat Urapsari (1896), Serat Bauwarna (1898), Serat Warna Basa (1900), Serat Tatacara ( 1907), Kandha Bumi (1924) dan lain-lain. Sementara itu Serat Rangsang Tuban menurut Sri Widati (2001) menjadi menjadi titik kritis dalam sejarah sastra Jawa karena mencatat adanya fakta pembaruan dalm pemunculan tema emansipasi wanita.

Bau Nyale

Bau Nyale merupakan pesta tradisi suku Sasak di Nusa Tenggara Barat, khususnya di sepanjang pantai Lombok Tengah dan Selatan. Tradisi ini berkaitan dengan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Legenda yang mengisahkan Putri Mandalika yang arif dan jelita.

Putri Mandalika adalah putri Raja Tonjang Beru dari Kerajaan Tunjung Bitu. Wajahnya yang cantik jelita dan perangainya yang lembut membuat para Pangeran dari berbagai negri jatuh cinta dan bermaksud menyuntingnya.

Tak ada satu pangeran pun yang datang melamar ditolaknya. Sehingga menyebabkan para pangeran itu bermusuhan dan berpotensi menyebabkan perang terbuka. Hal ini menyebabkan konflik batin pada Putri Mandalika. Ia gelisah dan termenung memikirkan agar tidak terjadi pertumpahan darah. Tidak ada pilihan lain, akhirnya ia memutuskan untuk mengorbankan dirinya sendiri.

Sebelum terjun ke laut lepas di atas batu karang, sang Putri berkata : “ Wahai Ayahanda, ibunda dan rakyat negri Tonjang Beru yang aku cintai.. karna aku tak dapat memilih dari sekian banyak Pangeran, aku putuskan diriku untuk kalian semua. Diriku telah ditakdirkan menjadi nyale, agar kalian dapat nikmati bersama pada bulan dan waktu saat nyale muncul dari permukaan laut .. “.

Bersamaan dengan itu, angin kencang, kilat dan gemuruh petir menggelegar, sambar menyambar. Suasana menjadi kacau dengan suara-suara teriakan dimana-mana. Sesaat kemudian suasana menjadi tenang, namun tiba-tiba bermunculan binatang kecil dalam jumlah banyak dari dasar laut. Binatang itu kemudian dinamakan nyale yang diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Mengambil binatang yang berbentuk cacing laut itu sebanyak-banyaknya kemudian dikenal dalam bahasa Lombok sebagai BAU NYALE (menangkap nyale). Itulah tradisi suku Sasak sebagai bentuk cinta kasih mereka kepada sang Putri yang berkorban diri untuk menghindari malapetaka bagi negri.

Mesjid Kubah Emas di Depok

Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kubah Emas adalah salah satu dari segelintir masjid yang berkubah emas di dunia. Berada di Jalan Maruyung Raya, Kel. Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Masjid megah ini berkapasitas 20 ribu jemaah berdiri kokoh di atas lahan seluas 70 hektare. Masjid ini mulai dibangun April 1999 oleh seorang dermawan, pengusaha asal Banten bernama Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid, istri dari Drs H. Maimun Al Rasyid, yang membeli tanah kawasan ini sejak tahun 1996.

Rencananya, selain masjid, lahan ini akan dijadikan Islamic Centre. Nantinya akan ada lembaga dakwah, dan rumah tinggal. Semua bangunan tersebut merupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan terpadu yang diberi nama Kawasan Islamic Center Dian Al-Mahri.

Masjid Dian Al Mahri dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha 1427 H yang kedua kalinya pada tahun itu. Pembangunannya sudah berlangsung sejak tahun 1999, namun baru dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006. Setelah shalat Idul Adha, pemilik masjid langsung meresmikan masjid ini. Ada sekitar 5 ribu jemaah yang mengikuti prosesi peresmian masjid ini.

Masjid ini disebut dengan Masjid Kubah Emas, sesuai namanya masjid ini memang menggunakan material emas dengan 3 teknik pemasangan: pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota/pilar, kedua gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab, yang ketiga gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara.

Pengurus dan pengelola masjid tidak mengungkapkan informasi mengenai total biaya pembangunan dan juga berat emas keseluruhan yang ada di kompleks masjid ini. Hanya ada informasi ketebalan emas yang melapisi kubah. Setiap kubah memiliki ketebalan emas 2 sampai 3 milimeter. Emas kubah tersebut kemudian dilapisi lagi dengan mozaik kristal.

Film-Film Indonesia Berjaya di Festival Film Asia Pasifik

Film Laskar Pelangi (2008) karya sutradara Riri Riza meraih penghargaan sebagai film terbaik Festival Film Asia Pasifik ke-53 di Kaohsiung, Taiwan, Sabtu (19/12) malam. Dua film Indonesia lainnya juga mendapat penghargaan di festival yang diikuti 58 judul film dari 16 negara Asia Pasifik itu.

Film Jamila dan Sang Presiden yang disutradarai Ratna Sarumpaet meraih penghargaan tata musik terbaik dan aktris senior Widyawati mendapat penghargaan aktris pendukung terbaik dalam Perempuan Berkalung Sorban.

Sebelumnya, film Laskar Pelangi meraih Golden Butterfly Award pada International Festival of Films for Children & Young Adults di Hamedan, Iran, Agustus lalu. Tiga bulan kemudian, Jamila dan Sang Presiden mendapatkan penghargaan The Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) dalam Festival Film Asiatica Mediale di Roma, Italia.

Tiga Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ada 3 ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Ketiga ulama tersebut memiliki gaya dan karakter-karakter yang berbeda pula. Mereka adalah :

1. Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1897) dari Banten.
Syekh Nawawi merupakan ulama yang paling alim dan rendah hati sekaligus produktif. Tak kurang dari 22 kitab karya Beliau masih beredar hingga dekade 1990-an. Syekh Nawawi mampu berdiri pada titik peralihan antara dua periode dalam tradisi pesantren. Pada satu sisi, ia memperkenalkan dan menafsirkan kembali warisan intelektualnya,sementara di sisi lain mampu memperkayanya dengan karya-karya terbaru karangannya.

2. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1915) dari Sumatera Barat.
Syekh Ahmad dikenal sebagai ulama reformis (mujaddid). Ia menjadi terkenal lantaran polemiknya mengkritik keras adat matrilineal di tanah Minangkabau, serta menentang praktek tarekat Naqsabandiyah. Perannya itu membawa kekuatan baru yang melahirkan ulama-ulama muda yang reformis menghadapi ulama kaum tua yang konservatif.

3. Syekh Mahfudh at-Tarmisi (wafat 1919) dari Tremas, Pacitan, Jawa Timur.
Syekh Mahfudh merupakan ahli qiraah al-Quran terkemuka dan ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari. Tradisi beliau dibawa oleh Kiai Hasyim Asy’ari – pendiri Nahdatul Ulama di Indonesia.

Tambahan :
Di Mekkah, pendidikan sistem madrasah tumbuh dan berkembang sejak tahun 1874. Madrasah pertama adalah Madrasah Shaulatiyah yang disponsori oleh wanita India bernama Shaulah An-Nisa. Pemimpin madrasah pertamanya adalah ulama India bernama Rahmatullah bin Khalil al-Utsmani.

Pada tahun 1934 berdirilah madrasah Darul Ulum oleh orang-orang Indonesia yang keluar dari Shaulatiyah setelah terjadi konflik. Muhsin al-Musawwa, sayid kelahiran Palembang yang menjadi guru di Shaulatiyah menjadi rektor pertamanya.

Syekh Muhsin (wafat 1935), Syekh Ali Banjar (wafat 1951), Syekh Yasin Padani (wafat 1990), Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan lain-lain adalah ulama-ulama Indonesia selanjutnya yang berkiprah di Mekkah pasca Syekh Nawawi dkk.

Catatan Akhir Tahun 2009 Perekonomian Indonesia..

Setelah merana akibat krisis finansial global 2008, pada tahun 2009 ini pasar modal Indonesia menunjukan kinerja yang gemilang. Bila pada akhir 2008 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertengger di level 1.355, maka pada 21 Desember 2009 lalu telah berada di level 2.431.

Penaikan indeks sekitar 80% itu menempatkan Bursa Indonesia berada di peringkat ke-4 tertinggi di dunia setelah Bursa Rusia yang menguat 124%, Bursa China 115 % dan Bursa Argentina yang naik 105%. Adapun indeks Dow Jones di New York Stock Exchange, AS yang menjadi barometer utama pasar saham dunia hanya naik 18% saja tahun ini.

Indonesia pun boleh berbangga dengan perekonomiannya yang tumbuh 4,5% di tahun ini atau tertinggi ke-3 di dunia setelah China sebesar 8,9% dan India sebesar 7,9%. Sementara sebagian besar negara lainnya di dunia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif.

Ketangguhan perekonomian Indonesia dini menjadi daya tarik bagi investor mancanegara. Hingga kuartal III tahun 2009 saja, investor asing tercatat melakukan pembelian atas saham-saham di Bursa Indonesia sebesar Rp. 180 trilyun dan penjualan sebesar Rp. 169 trilyun sehingga terdapat pembelian bersih sebesar Rp. 11 trilyun.

Deputy CEO PT Fortis Investments, Tino Moorrees mengatakan, investor global menilai Indonesia sebagai satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki prospek ekonomi cukup baik yang didukung oleh sumber daya alam yang melimpah. Selain itu pula, Indonesia juga tercatat sebagai negara yang memiliki perekonomian terbesar ke-18 di dunia atau telah masuk dalam G-20.

Terkait dengan ini, pengamat ekonomi Faisal Basri mengingatkan agar Indonesia tidak cepat berpuas diri dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif pada 2009. Kita harus tetap bekerja keras untuk membangun negara ini yang sasaran akhirnya adalah mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Belajar Dari Korea

Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern. Kemajuan ini membuat banyak orang kagum dan bertanya-tanya, resep apakah gerangan yang telah membuat bangsa ini berubah menjadi makmur??

Sejak awal tahun 1970-an, pihak Pemerintah Korea - dalam rangka semangat pembangunan nasional - telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas.

PERTAMA, "sikap rajin bekerja".
Lebih menghargai bekerja secara TUNTAS betapa pun kecilnya pekerjaan itu, ketimbang pidato yang muluk2 tapi tanpa pelaksanaan di lapangan.

KEDUA, "sikap hemat".
Sikap ini tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi.

KETIGA, "sikap self-help".
Sikap yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih BAIK, lebih JUJUR, dan lebih TEPAT; berusaha mengembangkan sikap MANDIRI dan rasa PERCAYA DIRI.

KEEMPAT, ""kooperasi atau kerja-sama".
Cara untuk mencapai tujuan secara EFEKTIF dan RASIONAL, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.

Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea yang bila kita perhatikan ke-4 butir nilai itu sesungguhnya adalah NILAI LUHUR BANGSA INDONESIA. "rajin pangkal pandai","sedikit bicara banyak kerja" adalah beberapa pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.

Adapun nilai "self-help",mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian besar masyarakat Indonesia,karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah. Sementara sikap yang terakhir, kooperasi,telah menjadi sendi2 dalam budaya Indonesia, yakni GOTONG ROYONG.

Nguras Enceh...

Nguras enceh adalah tradisi ritual tahunan setiap hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura, penanggalan Jawa. ritual ini berupa membersihkan gentong yang berada di makam raja2 Jawa di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta. Tradisi ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dan hati dari berbagai hal kotor.

Sementara itu, tradisi ritual 1 Sura lainnya diperingati oleh masyarakat Jawa lainnya seperti : Tradisi Sedekah Laut di pesisir-pesisir pantai selatan Jawa dengan melabuh 'uba rambe' di tengah laut. Uba rambe adalah sesaji atau sajen yang berupa nasi tumpeng, kepala kambing, ayam dan aneka makanan kecil tradisional lainnya.

Untuk masyarakat Jawa pedalaman, ritual tradisi 1 Sura berupa Sedekah Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali dan ritual mendaki Puncak Sangalikur di Kecamatan Gebog, Kudus.

HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Abu Waqid Radhiallaahu anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah n berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan :
“Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena: Pertama: ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam. Kedua: ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.

Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.”
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.

Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)
Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah:51)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.
Saudaraku! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami .dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan:
“Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (Al-Hadits).

Gebug Ende...

Gebug ende adalah ritual pemanggilan hujan yang biasanya digelar antara Oktober dan Desember pada saat warga baru saja menanam jagung di pelosok Desa Seraya, Bali.

Warga desa akan berkumpul, menari-nari dan bersiap-siap untuk memukul lawan dgn tongkat rotan atau menangkis serangan lawan dengan tameng.

Di daerah Lombok pun terdapat ritual serupa yang dinamakan PERESEAN. Dengan mensyaratkan tetesan darah akibat hantaman rotan. Semakin banyak darah yang menetes maka semakin besar kemungkinan hujan turun

Adang Sego...

Adang sego adalah sebuah prosesi ritual yang dilakukan 8 tahun sekali dalam sistem penanggalan Jawa di Keraton Kasunanan Surakarta. Dilaksanakan pada Tahun Dal, yakni tahun kelima dalam hitungan siklus sewindu karena bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw dalam penanggalan Jawa.

Prosesi Adang Sego ini dilakukan oleh ratusan abdi dalem keraton dari sore hingga pagi hari dengan menunggu matangnya nasi yang ditanak menggunakan 4 dandang, yakni Kiai Dudo, Kiai Rezeki, Kiai Macan dan Kiai Blawong. Nasi yang dihasilkan bakal dikemas dalam ukuran kepalan tangan untuk dibagikan kepada abdi dalem pada acara Pisowanan Ageng di Pendopo Keraton sebgai ungkapan rasa peduli raja kepada rakyatnya.

Sekilas Tentang Hari Raya Nyepi...

Ada 4 upacara yg terkait dgn Nyepi, yakni :

1. Upacara Melasti atau Melis, Mekiyis
Upacara yang mengawali ritual perayaan hari raya Nyepi ini dimaksudkan untuk menyucikan pratima, arca atau pralingga serta berbagai simbol yang membantu mendekatkan diri kepada Tuhan. Umat Hindu di Bali berduyun-duyun mendatangi laut dan sumber air lainnya untuk ‘nganyundang malaning gumi ngamit tirta amertha’, yaitu menghanyutkan segala kotoran dalam kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau dan sumber air lainnya sebagi simbol penyucian diri, batin, dengan memohon kepada Sang Sumber Kehidupan.

2. Tawur Kesanga
Upacara ini diisi dengan prosesi mengusung ogoh-ogoh (patung raksasa yang terbuat dari kertas) hingga malam sebelum Nyepi tiba atau disebut Malam Pengerupukan. Di penghujung acara, ogoh-ogoh itu dibakar sebagai perwujudan pengusiran roh jahat.

3. Yoga Samadhi
Yoga Samadhi ini terwujud dalam empat hal (Catur Berata), yakni : pantang menyalakan api (Amati Geni), menghentikan aktifitas kerja (Amati Karya), pantang menghibur diri (Amati Lelanguan) dan pantang bepergian (Amati Lelungan).

4. Ngembak Geni
Ngembak Geni diisi dengan saling bermaafan dengan handai tolan dan tetangga sekitarnya dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi

Hata Andung...

HATA ANDUNG adalah bahasa Batak yang sangat halus, bahasa ini sering kita dengar di acara acara adat tetapi hata andung ini paling sering digunakan pada saat ada orang meninggal. Saat ini orang yang pintar 'mangandung' sudah sangat jarang di jumpai

Berikut di bawah ini adalah beberapa contoh kata hata andung.
Selamat mempelajari

1. Simanjujung : Ulu = Kepala
2. Sitarupon : Obuk = rambut
3. Sipareon Pinggol = telinga
4. Simalolong = Mata
5. Silumandit : Igung= hidung
6. Simangkudap : Pamangan = mulut
7. Gugut : Ipon = gigi
8. Simangido = Tangan.
9. Siubeon : Butuha = perut
10. Simanjojak : Pat= kaki
11. Sirimpuron = Jari-jari.
12. Sisilon = kuku
13. Simatombom : Botohon dohot hae-hae = pangkal lengan dan paha
14. Among parsinuan : Amana parsinuan = bapak kandung
15. Inong namangintubu : Inong niba = ibu kandung
16. Ama namartunas : Ama paidua = bapak tiri (kedua)
17. Inong namartunas : Inong paidua.= ibu tiri (ibu kedua)
18. Sisumbaon : Pahompu = cucu
19. Ompung sisombaon = Ompung.
20. Sibijaon = Tulang/Ibebere

NGURISANG

NGURISANG adalah acara ritual mencukur rambut bayi bagi masyarakat di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat di puncak bukit sebagai bagian dari daur hidup manusia ( lahir-tumbuh dan mati ).

Secara simbolis, ngurisang dapat diartikan untuk membuang prilaku lama si anak dalam memasuki tahapan baru kehidupan, sehingga memiliki fungsi kontrol, arah dan tujuan hidup yang jelas. Ritual ini juga dimaksudkan agar anak memiliki mental dan moral terpuji serta menjadi panutan bagi keturunannya, seperti air yang mengalir dari dataran tinggi.

Wayang Golek Cepak

Wayang Golek Cepak berkembang di pesisir utara Jawa Barat (dari Indramayu hingga Cirebon) dengan mengambil kisah utamanya dari golongan menak (bangsawan) di negeri Jazirah Arab. Oleh karena itu, wayang ini disebut juga dengan WAYANG GOLEK MENAK.

Kisah perjuangan Hamzah (salah satu paman Rasulullah) adalah kisah favorit yang dimainkan dalang, selain kisah dari Babad Indramayu, Babad Cirebon dan kisah-kisah lainnya.

Bagian atas pada kepala wayang yang rata, tidak memiliki telekung-lah yang menyebabkan wayang ini disebut PAPAK atau CEPAK. Saat ini, wayang golek cepak lebih sering ditampilkan pada acara-acara adat, seperti ngunjung buyut.

Pelajar Indonesia (kembali) Merebut Medali Emas pada Olimpiade Penelitian Proyek Euroasia

Para pelajar Indonesia kembali menunjukkan ketangguhannya dalam ajang internasional. Kali ini Amalul Auni dan Teuku Muhammad Farhan Dermawan dari SMA Fatih Bilingual Boarding School, Banda Aceh meraih medali emas dalam Olimpiade Penelitian Proyek Euroasia ke-4 di Baku, Azerbaijan pertengahan April lalu.

Penelitian yg mereka lakukan adalah tentang “Penentuan Kadar Timbel dan Merkuri pada Rambut Manusia dan Tanaman Kangkung di Tanah Tsunami Aceh”. Sementara M. Khifzon Azwar dari SMA Kusuma Bangsa Palembang meraih perak dengan penelitiannya tentang “Biodegradable Plastik dari Sari Pati Singkong”.